TEORI DAN TERAPI PSIKOANALISA

 

Sigmund Freud menemukan sebuah temuan yang monumental yaitu tentang peran penting dari ketidaksadaran dalam pengaturan tingkah laku individu. Teori psikoanalisa dari Freud ini sangatlah mengandung kontroversial. Dalam sejarah, psikoanalisa ini merupakan aliran yang pertama kali muncul dari ketiga aliran utama pada psikologi. Dari beberapa teori kepribadian yang ada, teori psikoanalisa merupakan teori kepribadian yang komprehensif meskipun juga banyak mendapatkan berbagai macam kritik dan tanggapan-tanggapan yang bersifat positif maupun negatif (Alwisol, 2009). Lalu pada teori Psikoanalisa ini menyangkut dari beberapa topik yaitu terkait dengan perkembangan kepribadian, filsafat sifat dari manusia, serta metode dari psikoterapi.

Maka peran bagi konselor adalah untuk membantu klien dalam perkembangan kepribadiannya, serta melakukan beberapa macam prosedur dan juga teknik untuk proses kelancaran dari berjalannya suatu konseling. Pengetahuan serta pemahaman yang mendalam tentang pandangan psikoanalisa merupakan hal yang sangat penting bagi seorang konselor dalam menangani masalah yang mendalam.



A. Pengertian Hakekat Manusia Dalam Perspektif Psikoanalisa


Struktur Kepribadian

Kehidupan jiwa manusia memiliki tiga tingkatan yaitu : Id, Ego, dan Super ego.

a.       Id adalah termasuk tingkatan yang paling dasar, sistem yang ada di dalamnya id adalah naluri-naluri bawaan. Karena pada dasarnya tingkatan ini beroprasi berdasarkan prinsip kenikmatan, yaitu ingin memperoleh sebuah kenikmatan dan mengindari rasa sakit, prinsip kenikmatan sendiri dibagi menjadi 2 cara :

1)      Tindakan reflek, adalah sebuah reaksi yang dibawa oleh manusia sejak ia lahir.

2)      Proses primer, adalah sebuah reaksi membayangkan atau sedang mengkhayal sesuatu yang menyenangkan dan mengurangi tegangan.

Id hanya mampu membayangkan sesuatu yang menyenangkan atau mengkhayal sesuatu yang dapat memuaskan kebutuhannya. Tanpa bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Untuk dua tingkatan yang lainnya, id adalah tingkatan yang bertindak sebagai penyalur ataupun penyedia energi yang di butuhkan oleh tingkatan yang lainnya.

b.      Ego adalah eksekutif yang memiliki arah untuk memerintah, mengendalikan dan mengatur.Ego sendiri berkembang dari id agar seseorang mampu menangani sebuah realita. Dan dengan adanya ego seorang individu dapat          menyesuaikan diri dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Tugas ego menyusun rencana dan mengandalkan proses sekunder untuk memuaskan kebutuhan yang kemuadian rencana itu di uji dengan menganalisis apakah tindakan itu berhasil atau tidak. Ego adalah eksekutif atau pelaksana dari kepribadian yang memiliki 2 tugas utama :

1)      Memilih stimuli mana yang hendak di respon atau insting mana yang harus di puaskan.

2)      Menentukan kapan dan bagaimana kebutuhan itu di puaskan.

Dapat di disimpulkan bahwa cara kerja ego sebagian besar daerah operasi ego berasal dari kesadaran, namun ada juga sebagian kecil ego beroperasi di tengah antara sadar dan tak sadar. Ego sesungguhnya bekerja untuk        memuaskan id, dikarenakan ego tidak memiliki energi sendiri akan memperoleh energi dari ego .

c.       Super ego sendiri adalah moral etik dari kepribadian, yang memiliki prinsip idealistis yang tujuannya sebagai lawan dari prinsip kepuasan id dan juga prinsip realistis ego. Super ego bekerja berdasarkan moral dan juga larangan yang fungsinya untuk menghambat keinginan naluri-naluri yang menjadi prinsip id. Supergeo muncul ketika manusia sudah dewasa, ia bertugas untuk merefleksikan nilai-nilai sosial dan menyadarkan kepada manusia atas tuntutan moral. Apabila sesuatu terjadi atau melanggar moral maka superego menghukum ego dengan menimbulkan rasa bersalah.



Perkembangan Kepribadian

Struktur dasar kepribadian di dalam teori psikoanalisa sudah terbentuk pada usia lima tahun, dan kepribadian setelah lima tahun sebagian besar hanya merupakan hasil dari lima tahun sebelumnya. Ketiga komponen kepribadian ini berkembang melalui lima tahap perkembangan psikoseksual :

a.       Fase oral ( 0-1 tahun )

Pada bagian ini mulut menjadi daerah pokok kepuasan yang di pilih oleh insting seksual. Kegiatan ini di contohkan seperti mengunyah, menggigit, menghisap sumber utama kenikmatannya. Dalam tahapan ini dibagi menjadi dua fase yaituoral pasif dan oral agresif. Oral pasif di dapatkan ketika perasaan puas berawal dari menyusu atau makan. Oral agresif, yaitu kenikmatan di peroleh dari mengulum atau menggigit sesuatu apapun yang di masukkan ke dalam mulut bayi.

b.      Fase anal (2-3 tahun)

Pada fase ini daerah bawah atau dubur menjadikan daerah paling dinamik, rangsangan pada daerah bawah ini berhubungan dengan membuang air besar. Pengeluaran kotoran itu menghilangkan ketidaknyamanan dan menimbulkan perasaan lega atau merasakan kenikmatan. Pada fase ini juga anak akan mendapatkan pelatihan toilet training. Fiksasi yang dirasakan pada fase ini akan menyebabkan kecerobohan, impulsive yang tidak terkontrol.

c.       Fase falik ( 3-5 tahun )

Pada fase ini sudah mengetahui bahwa kelamin adalah organ terpenting pada fase ini sering muncul Oedipus complex kepada orang tuanya dimana anak laki-laki biasanya ingi bersama ibunya dan juga menyingkirkan ayahnya begitupun anak perempuan, dan anak juga akan bermusuhan dengan orang tua yang sesama jenisnya.

c.       Fase laten ( 6-12 tahun )

Pada fase ini anak mengalami penurunan implus seksual, dimana anak akan senang untuk mengembangkan bakat dan minatnya ataupun senang bermain dengan teman sebaya, maka pada akhirnya mereka berkembang menjadi lebih tenang, belajar sosialisasi, dan juga pengembangan kemampuan. Fase ini juga di tandai dengan terbentuknya super ego pada diri anak. 

d.      Fase genital ( 12-dewasa )

Di fase ini mulai di tandai dengan perubahan biokomia dan fisiologi dalam diri remaja. di dalam fase ini dorongan-dorongan seks pada masa phalic kembali berkembang, dan juga kematangan fisiologis anak pada masa remaja dimana mempengaruhi timbulnya daerah-daerah pada alat kelamin sebagai sumber kenikmatan, pada fase ini remaja mulai tertarik dengan lawan jenis, karena semua di mulai dari tahap pengembangan diri dan sosialisasi yang menyebabkan adanya ketertarikan yang muncul. Di fase ini pula implus seks mulai di salurkan dalam hal bergaul dengan lawan jenis, perkawinan dan juga keluarga. 


B. Manusia Sehat dan Tidak Sehat Dalam Perspektif Psikoanalisis

Kesehatan mental adalah hal yang paling penting dan juga fungsi dari keseimbangan dinamis antara struktur-struktur psikis dari ig, ego dan super ego. Pada orang-orang yang memiliki kesehatan mental yang baik, ego cukup kuat untuk mengendalikan insting-insting id dan juga menahan ketidaksetujuan superego.

Kepribadian yang sehat menurut psikoanalisis :  

  • Menurut freud kepribadian yang sehat yaitu apabila individu bergerak menurut pola perkembangan yang ilmiah, 
  • Memiliki mental yang sehat akan terbentuknya keseimbangan fungsi dari superego terhadap id dan ego.  
  • Kemampuannya dalam mengatasi tekanan dan kecemasan dengan belajar. 
  • Tidak mengalami gangguan ataupun penyimpangan pada mentalnya.
  •  Dirinya dapat menyesuaikan keadaan dengan dorongan ataupun keinginan .

 

Sakit menurut perspektif psikoanalisis

Dari sudut pandang psikoanalisis, berpendapat bahwa perilaku abnormal sendiri berasal dari perilaku masa kanak-kanak yang sangat berlebihan di dalam menentang keinginan yang berhubungan dengan seks dan agresi. Freud berpendapat bahwa ketika anak-anak melalui serangkaian tahapan dimana ketika implus seks dan agresi menampilkan berbagai macam bentuk serta menciptakan konfik dimana itu membutuhkan pemecahan dalam masalahnya. Jika konflik pada masa kanak-kanak ini tidak berhasil di pecahkan atau di selesaikan, maka konflik tersebut tetap tidak akan terselesaikan dalam ketidak sadaran yang akhirnya akan menimbulkan perilaku abnormal dimasa dewasa dan seterusnya.


C. Fungsi dan Peran Konselor dalam Perspektif Psikoanalisa.

       Peran konselor dimulai dengan tujuan dari teknik pada konseling. Peran konselor, harus memahami tentang prinsip-prinsip pada psikoanalisa. Tiga karakteristik konselor kritis, yang pertama yaitu empati, intuisi, intropeksi fall. Fungsi utama dari konselor pada perpsketif psikoanalisa adalah untuk mengajarkan kepada konseli mengenai makna dari proses konseling yang dilakukan, sehingga lebih mampu untuk memahami suatu masalah yang mereka hadapi, hal ini juga memabntu konseli untuk lebih mampu meningkatkan suatu kesadaran dalam mengubah serta mengontrol segala hidup mereka. Untuk membantu konseli memperoleh suatu kebebasan untuk mencintai, bekerja, dan bermain (Setiawan, 2018).

Fungsi konselor pada perspektif psikoanalisa ini yaitu, untuk membantu konseli untuk menadapatkan kesadaran diri, kejujuran, serta hubungan yang baik dan lebih efektif, mampu untuk menghadapi suatu kecemasan yang ada dengan cara yang realistis, dan mendapatkan kontrol yang penuh atas suatu perilaku yang implusif dan bersifat irasional. Konselor harus terlebih dahulu membangun suatu hubungan kerja dengan konseli, serta banyak mendengarkan dan menafsirkan. Konselor juga harus mampu untuk mendengarkan, belajar, dan memutuskan kapan membuat interpretasi yang tepat pada konseli.

Penafsirkan digunakan untuk mempercepat suatu proses dalam mengungkapkan bahan sadar. Konselor harus mendengarkan kesenjangan dan inkonsistensi dalam konseli, menyimpulkan arti suatu mimpi serta asosiasi bebas, tetap sensitif pada pentunjuk terhadap konseli. Corey mengatakan bahwa perspektif ini mengajarkan kepada konseli mengenai makna dari proses konseling yang dilakukan, sehingga konseli lebih mampu dalam memahami tentang masalah, mengubah dan mengontrol segala hidup mereka, konselor dapat membantu konseli untuk meningkatkan kesadaran (Setiawan, 2018).

Fenichel mengatakan bahwa seorang konselor harus mempersiapkan konseli sebelum melakukan interpretasi (Setiawan, 2018). Persiapan konseli yang tepat melibatkan langkah-langkah sebagai berikut, yang pertama yaitu mengembangkan aliansi pada seorang konselor, yang kedua yaitu peran induksi, yang terakhir yaitu, pemilihan waktu. Fungsi konselor untuk membantu seorang konseli mendapatkan suatu kebebasan dalam mencintai, bekerja, serta dalam bermain, mengangkat ketidaksadaran konseli untuk diangkat menjadi kesadaran. Seorang konselor harus membiarkan dirinya anonim dan hanya berbagai sedikit perasaan serta pengalaman mereka, sehingga konseli secara tidak langsung akan memperoyeksikan dirinya kepada konselor (Setiawan, 2018).

 

D. Teknik dan Prosedur Terapeutik dalam Pendekatan Psikoanalisa.

Teknik-teknik dalam pendekatan psikoanalisis digunakan untuk meningkatkan kesadaran, memperoleh pemahaman intelektual atau tingkah laku pada klien, untuk memahami makna berbagi gejala, serta untuk membuka alam ketidaksadaran (unconsiousness), diantaranya yaitu: (Setiawan, 2018)

  • Asosiasi Bebas, yaitu mengatakan apapun yang ada pada pikiran. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk membantu orang dapat berbicara tentang dirinya sendiri dengan cara dipengaruhi oleh mekanisme pertahanan. Sistematis, dimana penggunaan hubungan antara konselor dengan konseli cenderung berperilaku terhadap konseli mereka dengan cara yang netral. Hal ini dilakukan untuk melatih para konselor untuk dapat berbagi perasaan mereka sendiri atau hidup sendiri dengan konseli mereka.
  • Analisis interpretasi resistensi dan pertahanan. Konseli harus berbicara tentang masalahnya kepada konsleor, konselor akan memperhatikan bahwa ia menghindari, mendistorsi atau membela terhadap perasaan serta wawasan tertentu. Freud mengatakan bahwa itu penting untuk memahami sumber perlawanan serta dapat menarik perhatian dari konseli .
  • Analisis Mimpi dan fantasi. Freud mengatakan mimpi sebagai jalan raya untuk menuju alam bawah sadar seseorang dan dapat mendorong konseli untuk bercerita tentang mimpi mereka. Hal ini bertujuan untuk memeriksa bahan yang berasal dari dalam dan tingkat kepribadian pada individu. Hal ini diasumsikan bahwa peristiwa dalam mimpi bersifat simbolis, simpuls atau situasi dalam kehidupan terjaga pemimpi.
  • Interpretasi. Dimana seorang konselor akan menggunakan proses transferensi, mimpi, asosiasi bebas, dan lain sebagainya untuk menghasilkan bahan untuk intrepretasi.
  •  Teknik lain. Ketika seorang konselor bekerja dengan anak-anak sebagai konseli, itu ternyata tidak realistis untuk mengaharapkan mereka dapat menempatkan konflik dari batin mereka dalam suatu kata-kata.

Teknik-teknik yang terdapat pada pendekatan psikoanalisis diorientasikan untuk membantu konseli dalam meningkatkan kesadaran, karena konseli memiliki pengetahuan untuk membentuk perilakunya, serta untuk memahami gejala yang nampak pada konseli. Menurut Pujosuwarno (Setiawan, 2018) terdapat 5 teknik dalam psikonalisis, yaitu :

  • .Hipnotis (Hipnosis), yaitu untuk mengeksplorasi serta memahami faktor ketidaksadaran (unconsiness) yang menjadi penyebab masalah. Konseli akan diajak untuk melakukan katarsis dengan memvebarlisasikan konflik-konflik yang telah ditekan pada arah ketidaksadaran. Karena tidak semua orang dapat diajak pada alam ketidaksadaran. Hasil dari melakukan hipnotis juga tidak bertahan lama, karena setalah sadar penyebab masih tetap ada dan masih akan menganggu. Hal ini menyebabkan teknik hipnotis sudah lama ditinggalkan.
  •  Asosiasi Bebas (Free Association), yaitu bertujuan untuk meninggalkan cara berpikir yang bisa menyensor pikiran. Konseli diminta untuk berbaring rileks, kemudian diminta untuk mengasosiakan kata-kata yang diucapkan sendiri pada konselor dengan menggunakan kata yang pertama muncul diingatannya tanpa memperhitungkan baik buru, benar atau salah, atau mungkin kelihatan aneh, irasional, menggelikan atau menyakitkan. Dengan cara ini id diminta untuk berbicara, sedangkan ego dan superego diminta untuk diam.
  •  Interpretasi (interpretation), yaitu suatu teknik yang berkembang melalui teknik asosiasi bebas. Terdapat 3 aspek yang harus diinterpretasikan oleh konselor untuk mebantu konseli memahami peristiwa dari masa lalu hingga sekrang. Interpretasi dapat terkait dengan pikiran, perasaan, dan tindakan konseli yang kemudian akan dianalisis. Disini konselor perlu untuk menentuka momen yang tepat dalam interpretasi agar konseli siap dalam menerima dan mendapatkan insight.
  • Analisis Transferensi (Analysis of Transference), tranferensi terjadi ketika konseli memandang konselor seperti orang lain. pada proses ini konseling konseli biasanya akan mengirim perasaaan-perasaan tentang orang yang penting baginya pada masa lalu kepada konselor. Dalam analisis transferensi, konselor mendorong transferensi ini dan menginterpretasikan perasaan-perasaan positif dan negatif yang diekpresikan. Setelah itu akan melalui proses pelepasan yang bersifat tarapeutis, katartis, dan emosional.
  • Teknik Analisis Keperibadian (Case Histories). Pada pendekataan dinamika dilakukan untuk membantu konseli dalam menyembuhkan gangguan pada kepribadian yang muncul, karena adanya dorongan dari libido yang primitif terhadap Ego, sehingga superego harus mampu untuk menahan dorongan tersebut. Sehingga Ego harus mampu untuk mempertahankan keseimbangan antara dorongan dari Id dan Superego. Hal ini dilakukan untuk melihat tahapan perkembangan dari dorongan seksual yang nampak apakah dorongan seksual tersebut berjalan sewajarnya atau terdapt gangguan dari fase yang mana.

  

E. Kelebihan dan Kelemahan Pendekatan Konseling Psikoanalisa.

       Terapi psikoanalisa ini lebih efektif digunakan untuk mengetahui masalah pada diri klien, karena prosesnya dimulai dari mencarit tahu pengalaman-pengalaman masa lalu pada diri klien dan juga terapi ini memiliki dasar teori yang kuat. Namun terapi ini juga tetap memiliki kelebihan serta kelemahan, yaitu :

1.      Kelebihan dari Pendekatan Konseling Psikoanalisa :

·         Pendekatan ini menekankan pada pentingnya seksualitas dan alam tidak sadar dalam tingkah laku manusia.

·         Pendekatan ini memberikan sumbangan pada penelitian-penelitian empiris; bersifat heuristik.

·         Pendekatan ini menyediakan dasar teoritis yang mendukung sejumlah instrumen diagnostik.

·         Pendekatan ini tampaknya efektif bagi mereka yang menderita berbagai macam gangguan, termasuk histeria.

·         Pendekatan ini menekankan pentingnya tahap perkembangan pertumbuhan.

 

2.      Kelemahan dari Pendekatan Konseling Psikoanalisa :

·         Pendekatan ini menghabiskan waktu dan biaya yang banyak.

·         Pendekatan ini tidak terlalu berguna bagi konseli lansia atau bahkan sekelompok yang bervariasi.

·         Pendekatan ini berdasarkan pada banyak konsep yang tidak mudah dipahami atau dikomunikasikan.

·         Pendekatan ini membutuhkan ketekunan.

·         Pendekatan ini tidak begitu cocok dengan kebutuhan kebanyakan individu yang mencari konseling profesional.


Referensi:

Alwisol. (2009). Psikologi Kepribadian, Edisi Revisi. Malang: UMM Press.

Bertens, K. (2006). Psikoanalisis Sigmund Freud. Jakarta: Gramedia Pustaka.

Corey, G. (2003). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika ADITAMA.

Semiun, Y. (2006). Teori Kepribadian Dan Terapi Psikoanalitik Freud. Yogyakarta: Kanisius.

Setiawan, M. A. (2018). Pendekatan-Pendekatan Konseling Teori dan Aplikasi . Yogyakarta: CV Budi Utama.

Comments